🧠 Apa Itu Agama? Bukan Sekadar Ibadah, Tapi Sistem Hidup


 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Gini lho ya, ngaji itu yang rileks. Santai saja. Jangan spaneng. Beragama itu fitrah, sesuatu yang harusnya bikin hati kita tenang, nyaman, dan bahagia. Lah wong Allah itu Ar-Rahman Ar-Rahim, kok kitanya kalau beragama malah bawaannya mau marah-marah terus. Itu kan ya aneh.

Makanya, penting sekali kita ini ngaji secara lughot. Lughot itu apa? Secara kebahasaan, etimologi, asal-usul kata. Orang itu kalau tahu asal-usul, tahu sejarahnya kata, dia nggak gampang kaku. Pikirannya jadi luas. Ulama-ulama kita dulu, ahli tafsir, ahli fikih, itu semua pakar lughot. Makanya cara pandang mereka terhadap kehidupan ini enak sekali. Masuk akal dan gampang dicerna.

Nah, sekarang kita bahas kata "Agama". Sering kan kita dengar kata ini? Setiap hari kita sebut. Di KTP ada kolom "Agama". Tapi pertanyaannya, secara lughot, agama itu apa sih?

Duduk yang tenang, ngopi dulu kalau perlu, biar akalnya jalan. Saya akan jelaskan pelan-pelan.

1. Agama: "A" dan "Gama" (Supaya Tidak Kacau)

Gini, kata "Agama" itu sebenarnya bukan dari bahasa Arab. Kalau di bahasa Arab, Al-Quran, hadits, sebutannya kan Ad-Diin. Kata "agama" yang kita pakai di Indonesia ini akar bahasanya dari bahasa Sansekerta. Orang Nusantara dulu, para wali, ulama-ulama kita yang menyebarkan Islam di tanah Jawa dan Nusantara, itu sangat pintar. Wong kok pintere ngono lho. Mereka meminjam istilah yang sudah akrab di telinga masyarakat untuk menjelaskan konsep ketuhanan.

Secara lughot (etimologi) Sansekerta:

  • A itu artinya Tidak.

  • Gama itu artinya Kacau atau berantakan.

Jadi kalau digabung, Agama itu artinya Tidak Kacau atau Teratur.

Paham ya sampai sini? Sederhana sekali kan?

Fungsi utama orang beragama itu, ya supaya hidupnya nggak kacau. Coba kamu bayangkan, dunia ini kalau nggak ada aturan agama, hancur lebur. Manusia itu kalau dibiarkan pakai hawa nafsunya sendiri, nggak dikasih batasan mana yang halal dan mana yang haram, itu lebih buas dari binatang di hutan.

Kucing itu lho, kalau lapar, dia nyolong ikan tongkol di mejamu. Tapi kucing nyolong itu sekadar buat kenyang saat itu. Kucing nggak punya kepikiran nyolong ikan tongkol buat di-stock di kulkas selama sebulan. Nggak ada ceritanya kucing korupsi ikan tongkol buat diinvestasikan ke anak-cucunya.

Tapi manusia? Waduh. Kalau nggak dipagari sama "agama", manusia itu serakahnya nggak ada batasnya. Dikasih satu gunung emas, minta dua gunung emas. Makanya diturunkanlah agama (aturan).

  • Ada aturan nikah: Supaya jelas nasabnya, nggak sembarangan campur kayak hewan. Hidup jadi teratur. Tidak kacau.

  • Ada aturan zakat: Supaya yang kaya nggak seenaknya menumpuk harta, yang miskin nggak mati kelaparan dan berujung pada kriminalitas. Ekonomi jadi tidak kacau.

  • Ada aturan qishash atau hukum pidana: Supaya orang nggak sembarangan membunuh.

Jadi, dari lughot Sansekerta saja, kita sudah diajari filosofi tingkat tinggi. Kalau kamu beragama, tapi hidupmu, lisanmu, perilakumu malah bikin kacau masyarakat, bikin orang lain nggak nyaman, bikin tetangga was-was, ya berarti kamu belum paham hakikat "agama" itu sendiri. Wong namanya agama itu biar "tidak kacau", kok malah kamu yang bikin kacau. Kan ya wagu (aneh).


2. Dari "Agama" Menuju "Ad-Diin" (Lughot Arab)

Nah, sekarang kita geser ke lughot Arab. Karena kita ini beragama Islam, panduan utama kita ya Al-Quran. Di Al-Quran, agama itu disebut Ad-Diin.

Allah berfirman:

       اِÙ†َّ الدِّÙŠْÙ†َ عِÙ†ْدَ اللّٰÙ‡ِ الْاِسْÙ„َامُۗ

Innad-diina ‘indallaahil-islaam.  "Sesungguhnya agama (Ad-Diin) di sisi Allah adalah Islam." (QS. Ali 'Imran: 19)

Kata Ad-Diin ini secara lughot bahasa Arab maknanya luas sekali, indah sekali. Ulama-ulama ahli bahasa seperti Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab itu membahas kata Ad-Diin sampai berlembar-lembar. Akar katanya itu dari huruf Dal - Ya - Nun.

Fi’il-nya (kata kerjanya) adalah: Daana – Yadiinu – Diinan.

Kalau kita bedah secara lughot, kata Ad-Diin ini punya beberapa makna utama yang saling berkaitan erat. Dengarkan baik-baik, ini nanti ketemunya di tauhid yang bikin kita ini selalu bersyukur jadi hamba Allah.

A. Ad-Diin Maknanya Adalah "Hutang" (Dain)

Sadar nggak kamu, kata Diin (agama) itu satu akar kata dengan Dain (hutang)? Di Al-Quran ayat yang paling panjang itu QS. Al-Baqarah ayat 282, disebut ayat Mudayanah, ayat tentang hutang-piutang.

Lho, kok agama maknanya hutang? Gini lho penjelasannya. Masuk akal nggak coba kamu pikir.

Kita ini hidup di dunia, nafas gratis, jantung berdetak nggak usah kita setel pakai remote, mata bisa melihat indahnya matahari, ginjal menyaring darah gratis. Siapa yang ngasih? Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Pernah nggak kamu sebelum lahir ke dunia bawa proposal ke Allah? "Ya Allah, saya minta tolong dilahirkan di bumi, matanya tolong yang normal ya, hidungnya mancung sedikit." Nggak pernah kan? Tahu-tahu kita diwujudkan, dikasih wujud (eksistensi) oleh Allah.

Dari yang asalnya kita ini "tidak ada" ('adam), lalu dijadikan "ada" (wujud) oleh Allah. Itu saja sudah nikmat yang luar biasa. Artinya apa? Kita ini pada hakikatnya punya hutang budi, hutang eksistensi kepada Allah. Hutang nyawa, hutang wujud.

Orang yang ber-diin (beragama), adalah orang yang sadar sesadar-sadarnya bahwa dia itu punya hutang sama Tuhannya. Karena dia merasa berhutang budi sudah dihidupkan, dikasih rezeki, maka wajar dong kalau dia mengabdi kepada yang memberi hutang kehidupan itu.

Makanya orang yang nggak mau menyembah Allah, itu secara lughot ibarat orang yang punya hutang banyak, tapi disuruh ngomong terima kasih saja nggak mau. Angkuh. Makanya disebut kafir. Kafir itu lughotnya menutup. Menutup dari apa? Menutup dari kebenaran dan rasa syukur.

Jadi beragama (Ad-Diin) adalah kesadaran kosmis bahwa "Ya Allah, saya ini hamba-Mu, eksistensi saya ini hutang dari-Mu, maka saya bayar hutang budi ini dengan menyembah-Mu." Paham ya? Indah sekali kan bahasa Arab itu.

B. Ad-Diin Maknanya "Ketaatan" dan "Ketundukan" (Tho'ah / Inqiyad)

Karena makna pertamanya tadi adalah hutang budi, maka otomatis melahirkan makna kedua. Secara lughot, Ad-Diin juga diartikan At-Tho’ah (ketaatan), Al-Inqiyad (ketundukan), dan Al-Khudu’ (merendahkan diri).

Logikanya gini lho. Kalau kamu diutangi temanmu uang 1 Miliar waktu kamu lagi susah-susahnya, jatuh miskin, mau makan saja susah. Terus temanmu ini nolong kamu tanpa pamrih. Kira-kira kalau temanmu ini nyuruh kamu, "Tolong dong ambilkan sapu," kamu bakal nurut nggak? Ya pasti nurut! Wong kamu ngerasa punya hutang budi gede banget. Kamu akan tunduk sama dia karena rasa hormat.

Nah, kepada Allah itu ketaatan kita harusnya seperti itu, bahkan lebih tinggi lagi (Wa lillahil matsalul a'la). Ketaatan dalam Ad-Diin itu bukan ketaatan karena ditekan atau dipaksa kayak robot. Tapi ketaatan yang lahir dari rasa cinta dan kesadaran bahwa kita ini hamba yang lemah (faqir), yang bergantung penuh pada Sang Pencipta (Al-Ghaniy).

Makanya disebut agama (Ad-Diin). Orang beragama ya orang yang tunduk patuh. Kalau ngaku beragama tapi disuruh sholat 5 waktu saja tawar-menawar, disuruh puasa sebulan saja ngeluh, disuruh nutup aurat protes, ya ketaatannya secara lughot patut dipertanyakan. Padahal Allah ngasih waktu 24 jam sehari, diminta buat sholat paling total cuma 30 menit sehari. Sisanya? Ya buat kamu kerja, makan, tidur, ngopi sama teman-teman. Kok ya masih pelit banget ngasih waktu buat Allah.

C. Ad-Diin Maknanya "Pembalasan" atau "Perhitungan" (Jaza' / Hisab)

Kamu tiap hari sholat minimal baca Al-Fatihah 17 kali kan? Di situ ada ayat yang bunyinya:

Maaliki yaumid-diin.

"Yang menguasai hari pembalasan."

Kata diin di sini bukan berarti "Yang menguasai hari agama". Lucu kalau diartikan gitu. Secara lughot Diin di ayat ini maknanya adalah Al-Jaza' (Pembalasan) atau Al-Hisab (Perhitungan).

Apa hubungannya agama sama pembalasan? Gini lho.

Agama itu adalah sistem (aturan main). Setiap aturan pasti ada konsekuensinya. Kalau kamu taat sama aturannya (tidak bikin kacau/gama), kamu dapat kebaikan (surga/pahala). Kalau kamu melanggar aturannya, ya kamu dapat balasan yang setimpal (neraka/siksa).

Makanya Yaumid-diin itu Hari Kiamat. Hari di mana semua "hutang" amal perbuatanmu selama di dunia ditagih dan dihitung dengan keadilan yang absolut. Nggak ada yang bisa disuap di sana. Malaikat pencatat nggak bisa kamu ajak ngopi terus diajak nego, "Eh, tolong dong dosa ghibahku dihapus sedikit." Nggak bisa. Semua dihitung secara presisi.

Ini bikin orang yang paham lughot agama, hidupnya jadi hati-hati. Dia tahu, nggak ada satupun perbuatan di dunia ini yang luput dari Diin (perhitungan Allah). Mau kamu nyolong sendal di masjid, mau kamu korupsi uang negara miliaran, mau kamu menyingkirkan paku dari jalanan, sampai hal terkecil sebesar biji sawi (dzarrah), semua ada hisabnya.

D. Ad-Diin Maknanya "Jalan" atau "Adat Kebiasaan" (Thoriqoh / 'Adah)

Makna lughot yang terakhir dari Ad-Diin yang sering dilupakan orang adalah Thoriqoh (jalan hidup) atau 'Adah (adat/kebiasaan).

Agama itu didesain oleh Allah bukan sebagai beban yang nyusahin. Ingat sabda Nabi: "Innad diina yusrun" (Sesungguhnya agama itu mudah). Agama itu dimaksudkan untuk menjadi habit, kebiasaan hidup sehari-hari. Jalan yang lurus (Shirotol Mustaqim).

Orang dulu itu beragama ya mengalir saja jadi kebiasaan hidup. Bangun tidur baca doa. Mau makan baca Bismillah. Ketemu orang senyum, ngucap salam. Kerja di pasar jujur nggak ngurangin timbangan. Itu semua Diin. Agama itu menyatu dalam laku keseharian, bukan cuma pas lagi duduk pakai peci di dalam masjid.

Kalau agama sudah jadi jalan hidup dan adat kebiasaan yang baik, ya hidupnya asyik. Santai. Nggak gampang kagetan, nggak gampang gumunan. Ada masalah sedikit, ya langsung dikembalikan ke Allah. "Oh, ini qadha dan qadarnya Allah." Hatinya lapang.

Kesimpulannya Gini Lho...

Jadi kalau kita gabungkan lughot Sansekerta dan lughot Arab tadi, pemahaman kita tentang agama itu jadi sangat kaya. Masyaallah, luar biasa ulama-ulama kita memahamkan umat.

Agama (Ad-Diin) itu adalah:

Sistem aturan kehidupan yang dibuat supaya manusia tidak kacau (A-gama), yang didasari pada kesadaran bahwa kita punya hutang eksistensi (Dain) kepada Allah. Cara bayar hutangnya adalah dengan tunduk dan patuh (Tho'ah) menjalankan aturan-Nya. Aturan ini harus dijadikan jalan dan kebiasaan hidup (Thoriqoh), karena kelak di akhirat semuanya akan dimintai pertanggungjawaban di hari pembalasan (Jaza'/Hisab).

Coba, masuk akal kan? Jelas sekali runutannya.

Orang yang paham hakikat agama secara lughot dan syariat, hidupnya pasti gembira. Dia tahu batas, tapi dia juga tahu betapa luasnya rahmat Allah. Jangan beragama tapi isinya malah bikin kacau, nebar kebencian, kaku, gampang ngafir-ngafirkan orang lain. Itu namanya nggak paham lughot "A-gama" (tidak kacau).

Sudah, pokoknya jalani syariat semampunya, jauhi larangannya, nikmati hidup ini sebagai anugerah, banyakin syukur, sholat yang bener, baik sama tetangga. Itu sudah mencakup inti dari beragama. Nggak usah dibuat ruwet. Allah itu Maha Tahu kok niat baik kita.

Paham ya sampai sini? Ya sudah, semoga penjelasan yang sederhana ini ada berkahnya buat kita semua. Mari kita terus belajar, ngaji lughot, ngaji tafsir, supaya pikiran kita luas dan hati kita adem.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq, Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.



Postingan populer dari blog ini

Sayyi’ah dalam Al-Qur’an: Ketika Dosa Mulai Terlihat di Wajah dan Aura

Perbedaan Makna Bahasa (Lughot) dan Istilah Syar’i dalam Islam: Fondasi Memahami Agama dengan Benar

Saat Hati Keras Seperti Kayu: Memahami Maksiat dan Jalan Kembali kepada Allah